Kiblat tidak selalu mengarah ke Makkah. Pada masa awal Islam, umat Muslim sholat menghadap Masjidil Aqsa di Yerusalem. Kiblat kemudian berubah ke Ka'bah di Makkah, perubahan yang tercatat dalam Al-Quran, Surah Al-Baqarah ayat 144, dan terjadi sekitar bulan Rajab tahun kedua setelah hijrah Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah.
Masjidil Aqsa tetap menjadi salah satu situs tersuci dalam Islam, dan masih dikenang sebagai kiblat pertama umat Muslim. Perubahan ini menunjukkan bahwa arah ini, meski sudah tetap sejak saat itu, memiliki akar sejarah dan makna keagamaan yang dalam, bukan sekadar titik koordinat di peta.
Sejak perubahan tersebut, yang berkembang bukan arah kiblat itu sendiri, melainkan ketepatan alat untuk menemukannya. Dari perhitungan manual para ahli falak menggunakan bayangan matahari dan rasi bintang berabad-abad lalu, hingga kombinasi GPS dan sensor digital pada alat seperti ini, tujuannya tetap sama, membantu umat Islam menghadap ke titik yang sama setiap kali sholat.